Ia menambahkan, anak yang lahir pada tahun 2020 akan mengalami dampak krisis iklim yang jauh lebih parah dibandingkan generasi kakeknya.
Mereka mengalami gelombang panas tujuh kali lebih banyak, kekeringan tiga kali lebih sering, dan banjir besar dua kali lebih intens.
Menurut Febri, tanggung jawab terbesar dalam menghadapi krisis iklim berada di tangan pemerintah.
Namun, 62,4 persen responden merasa bahwa pelibatan orang muda oleh pemerintah masih bersifat tokenisme atau sekadar formalitas tanpa makna.
“Orang muda sering hanya diundang secara simbolis, bukan untuk benar-benar dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Padahal kitalah yang paling merasakan dampaknya,” tegas Febri.
Diskusi ini mengundang perwakilan Kemenpora namun tidak hadir.
Moderator Fiorentina Refani mengatakan jangan melibatkan Gen Z hanya sekedar meramaikan panggung, namun masukannya harus diakomodir.
“Untuk pemerintah yang tidak hadir dalam diskusi ini, simaklah masukan dari kami: ubah kebijakan Pemerintah untuk generasi muda. Ambil sikap lebih ambisius dalam mengurangi emisi,” tegasnya.
Semakin Banyak Gen Z Menjadi Aktivis Lingkungan
Dian Irawati dari lembaga riset Kawula17 juga mengungkapkan hasil riset yang dilakukan oleh lembaganya.















