Selain itu ujar dia, pergerakan rupiah juga terimbas data-data Cina yang mensinyalkan masih adanya perlambatan di negara tersebut.
Perlambatan ekonomi Cina membuat negara-negara mitra ekonomi perlu merevisi ulang kinerja perdagangannya, termasuk Indonesia.
Selain itu, ketidakpastian krisis Eropa kembali mengemuka setelah Siprus menjual cadangan emasnya.
Hal ini dilakukan setelah jumlah bantuan dana talangan yang dibutuhkan negara itu ternyata melonjak di atas ekspektasi.
“Para pelaku pasar juga masih khawatir adanya ganjalan masalah di Siprus, terkait dengan perkiraan penambahan dana bailout di atas perkiraan,” kata dia.
Namun kata dia, rupiah tidak akan jatuh terlalu dalam karena BI aktif mensuplay dollar AS ke pasar uang.
“Bank sentral terus hadir di pasar uang. Indikasinya, menurunnya cadangan devisa kita,” pungkas dia.













