JAKARTA-Penggunaan e-money di Indonesia tampaknya belum begitu memasyarakat. Padahal manfaatnya sangat banyak, misalnya bisa menekan uang palsu. “Tapi penggunaan e-money masih sedikit, masih di bawah 4%, ini yang harus sama-sama kita dorong,” kata Deputi Bank Indonesia (BI), Ronald Waas di Jakarta, Rabu, (2/10).
Menurut Ronald, Bank Indonesia (BI) terus mendorong penggunaan e-Money di masyakarat, karena manfaatnya sangat banyak terutama dapat menekan peredaran uang palsu.
“Saat ini peredaran uang palsu dapat tersebut ditekan, salah satunya karena perkembangan e-Money,” ungkapnya.
Rasio uang palsu saat ini mencapai 5 lembar dari 1 juta lembar. “Saat ini rasio uang palsu 5 lembar dari 1 juta lembar, sedangkan tahun lalu mencapai 8 lembar dari 1 juta lembar,” tambahnya.
Diyakini Ronald, penggunaan e-Money jauh lebih aman dan efisien. Apalagi uang tunai itu sangat mahal untuk biaya pembuatannya. “Produksi uang tunai dan penanganan uang tunai sangat mahal, dengan e-Money ini sangat efisien,” cetusnya.
“Bukan cuma itu, pelaku kejahatan perbankan bisa dengan mudah terlacak. “Selain itu jauh lebih aman, jika ada pelanggaran tindak pidana sangat gampang dilacak karena datanya terekam dimana transaksinya,” tukasnya.













