“Dan spirit santri ini telah tumbuh dan mengakar kuat di Indonesia,” tandas Cak Imin.
Menurutnya, kata santri ini berasal dari bahasa Sansakerta ‘sastri’ yang berarti tiga kesucian, yaitu, kesucian pikiran, hati, dan perilaku. “Ketiga kesucian itu menjadi modal bagus, mulai dari menata diri sampai menata bangsa kita. Apalagi dalam kehidupan kita saat ini mulai muncul benih-benih krisis kemanusiaan. Tentu saja hal ini perlu kita waspadai dan antisipasi,” tegasnya.
Krisis kemanusian yang ia maksud merujuk banyaknya aksi kekerasan di masyarakat. Yang terbaru, aksi pembakaran gereja di Kabupaten Aceh Singkil, Nangroe Aceh Darussalam (NAD). “PKB mengutuk keras aksi pembakaran tempat ibadah di Aceh. Kita harus serukan, agama itu tidak pernah mengajarkan kekerasan. Agama justru memerintahkan perdamaian. Semua peristiwa konflik harusnya ditarik menjadi sikap bersama agar tetap mengusung perdamaian. Semangat kemanusian dan keagamaan harus menjadi dasar,” tegasnya.
Dia menambahkan, Islam adalah agama rahmatan lilalamain sehingga menolak adanya gerakan fundamentalis dan liberalis. “Gerakan itu harus ditarik ke konsep Islam rahmatan lilalamin. Karena Islam rahmatan lilalamin atau juga Islam Nusantara menjadi solusinya,” sarannya.













