Sementara itu, Wakil Rektor Universitas Mathla’ul Anwar, Ali Nurdin, Banten mengakui meski tidak dilarang, dinasti politik dianggap tidak memberikan sumbangan positif apapun terhadap kemajuan demokrasi. “Banten adalah contoh sempurna dinasti politik dan ekonomi rente yang didukung premanisme,” ungkapnya.
Menurut Ali, dinasti Ratu Atut dibangun di atas struktur ekonomi-politik (premanisme) yang dibangun ayahnya, Tubagus Chasan Sochib. Berasal dari kedekatan Soeharto dengan Haji Mahmud (Ciomas). Belakangan, Chasan Shocib menjadi kepercayaan Soeharto untuk mengamankan Golkar di Banten.
Lebih jauh kata Ali, ada 4 pilar yang memperkuat dinasti, antara lain, pertama, konsolidasi birokrasi dengan menempatkan orang-orang yang dianggap loyal untuk posisi kepala dinas dan jabatan-jabatan strategis di daerah.
Lalu, kedua, konsolidasi proyek menguasai proyek-proyek yang dibiayai APBD dan APBN mulai dari perencanaan sampai implementasi. Ketiga, konsolidasi partai politik, menempatkan para kerabatnya, atau orang yang dianggap loyal, untuk mengisi jabatan di partai-partai politik. Keempat, konsolidasi kelompok masyarakat didukung oleh jaringan kelompok jawara-preman, Persatuan Pendekar Persilatan dan Seni Budaya Banten (PPPSBBI), juga ada Relawan Banten Bersatu (RBB) yang sering menjadi tulang punggung dinasti ini pada setiap kampanye.













