Pasalnya, kebijakan bank sentral tersebut mematikan kegiatan usaha di sektor riil.
Dolfie menilai, BI sudah salah langkah dalam upayanya mengendalikan tren pelemahan rupiah melalui kebijakan BI Rate yang juga diharapkan dapat menekan current account deficit.
“BI mengeluarkan instrumen ini untuk menekan defisit dengan menguatkan kembali rupiah,” ujarnya.
Selain itu, kata Dolfie, kebijakan BI Rate juga sudah tidak sejalan dengan upaya pemerintah yang mengharapkan terjadinya stabilitas pertumbuhan ekonomi.
Pasalnya, sejak tiga kuartal terakhir pertumbuhan ekonomi terus mengalami penurunan.
“Penerapan BI Rate yang tinggi ini cara konvensional, padahal banyak kebijakan moneter yang tepat untuk diterapkan pada kondisi ini,” tutur Dolfie.
Dolfie mengatakan, kenaikan BI Rate juga tidak terlepas dari upaya BI untuk mengamankan cadangan devisa agar jumlahnya mengalami peningkatan.
Sejak tiga bulan terakhir, kata dia, cadangan devisa terus mengalami kenaikan, sehingga saat ini jumlahnya menjadi US$97 miliar.
Peningkatan jumlah cadev itu, menurut Dolfie, sekaligus menegaskan bahwa BI tidak menggunakan cadev dalam upaya mengintervensi volatilitas rupiah.
“Jadi, seharusnya BI bisa menggunakan cadev untuk untuk mengendalikan stabilitas rupiah pada kondisi saat ini,” ucap Dolfie.













