“Peran ritel modern saat ini cukup besar dan tidak boleh dibenturkan posisinya dengan wet market (pasar tradisional), karena ritel modern dan pasar tradisional ini mempunyai pangsa pasar tersendiri dan keberadaan dua entitas tersebut hari ini adalah sebagai penyangga kestabilan distribusi pangan,” tegasnya.
Menurutnya, Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) merupakan salah satu lembaga yang selalu berkomitmen dalam mendukung dan menjaga stabilitas pasokan dan harga di tingkat konsumen.
“Apresiasi kami untuk APRINDO sebagai salah satu asosiasi yang sangat penting, konsisten dan persisten untuk menjaga ketahanan pangan nasional, karena hari ini semua yang dikerjakan untuk ketahanan pangan nasional itu pengaruh ritel modern sangat besar khususnya sebagai standby buyer dari kegiatan-kegiatan di hulu,” ucap Arief.
Terkait pemenuhan stok, Arief menegaskan sumber yang utama adalah berasal dari produksi dalam negeri.
“Pada saat kita sudah memiliki proyeksi 3-5 bulan ke depan produksi akan turun apapun sebabnya karena climate change atau hambatan lain maka kita harus siapkan cadangan pangan. Jadi sudah ada Perpres nya Nomor 125 tahun 2022 tentang Penyelenggaraan Cadangan Pangan Pemerintah,” ungkap Arief.













