Ia menyebut saat ini produksi beras turun 760 ribu ton tetapi harga relatif stabil karena pemerintah mempunyai cadangan pangan pemerintah khususnya beras 1,7 juta ton.
“Kalau produksi kita berlebih/over stock, sudah disimpan, kemudian ritel menyimpan sampai 2-3 bulan ke depan inventory-nya, kemudian masih berlebih juga itu waktunya kita ekspor. Contohnya bawang merah dari NTB itu bisa sampai Malaysia dan Thailand kemudian karkas/ ayam broiler itu sudah dikirim ke Singapura dan Tiongkok. Ini artinya ekspor kita ada dan peran ritel modern, petani dan peternak saat ini sangat baik,” tegasnya.
“Mari kita bangun ekosistem pangan dari hulu ke hilir yang menguntungkan semua pihak, tidak boleh ada pihak yang dirugikan. Dalam 2 tahun terakhir ini dengan adanya Badan Pangan Nasional ini bisa dirasakan, saat ini nilai tukar petani 110 kemudian inflasi sangat terjaga volatile food berada di bawah 1%, artinya kesejahteraan petaninya baik dan inflasi terjaga. Sedangkan untuk 22 juta keluarga penerima manfaat pun dijaga oleh pemerintah dengan diberikan bantuan beras,” terangnya.
Hal ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto agar dapat menjaga harga pangan wajar bukan hanya di hulu tapi di juga hilir serta memastikan hasil produksi petani dan peternak dapat diserap dengan harga baik begitupun harga yang terjaga di tingkat konsumen.













