JAKARTA-Nilai tukar rupiah selama perdagangan sepekan melemah setelah turun tajam di awal minggu. Pelemahan rupiah dipicu oleh maraknya aksi jual asing baik di saham maupun obligasi serta tingginya demand dollar Amerika Serikat (AS),” ujar Kepala Divisi Treasury BNI, Nurul Eti Nurbaeti di Jakarta, Jumat (14/6).
Menurut dia, tekanan terhadap rupiah memang sudah mulai terlihat sejak awal pekan. Salah satu pemicunya adalah kebutuhan dollar AS yang masih tinggi menyusul pembayaran utang swasta luar negeri pada Juli-Agustus mendatang. “Persediaan dollar AS sangat terbatas, sementara kebutuhan tinggi, kondisi itu yang membuat dollar AS menguat di dalam negeri pada akhir-akhir ini,” ucap dia.
Ketidakseimbangan antara permintaan dan persedian dollar AS dipasar ini menyebabkan rupiah menembus level psilogisnya. Karena itu, Bank Indonesia (BI) akhirnya menaikkan Fasbi dan BI Rate masing-masing 25 bps sehingga mampu menstabilkan rupiah.
Namun demikian kata dia, naiknya suku bunga acuan ini tidak langsung meredakan tekanan terhadap rupiah. Semestinya kebijakan ini diambil sejak lama ketika inflasi mulai meningkat. “Rupiah sudah terlalu melemah sehingga naiknya suku bunga acuan tidak banyak artinya,” imbuh dia.















