Di pesantren, santri tidak hanya dibelaki ilmu agama, mereka juga dibekali berbagai keahlian lain seperti; ilmu komputer, bahasa asing selain bahasa arab, menjahit, beternak, bahkan fotografi, serta jurnalisme.
Bertebarannya ceramah ceramah keagamaan oleh banyak ulama populer seperti Gus Baha, Gus Muwafiq, KH Anwar Zahid, dll adalah buah karya ketekunan para santri mengunggah konten konten ceramah para kiainya di berbagai platform media sosial.
Ini artinya, para santri juga bisa berakselerasi dengan kemajuan zaman.
Lebih dari itu, santri telah menjadi kekuatan diaspora, dan menggeluti berbagai profesi tanpa kehilangan identitasnya sebagai santri.
Tidak ada satupun partai politik, khususnya di DPR yang tidak ada keterwakilan santri.
Santri tidak hanya bersiyasah semata mata dari partai politik berideologi Islam saja.
Banyak partai partai nasionalis juga menjadi ruang artikulasi para santri.
Saya sendiri sebagai santri, namun sejak tahun 1988 sudah aktif di PDI dan tahun 1999 menjadi PDI Perjuangan.
Diaspora santri ada disemua tempat, diberbagai organisasi profesi, baik kepengacaran, aktivis LSM, guru, dosen tenaga medis, TNI dan Polri, bahkan diantaraya memuncaki karir menjadi jenderal, serta berbagai profesi lainnya.














