Oleh:Joanes Joko
Tatkala melihat upacara penyatuan tanah dan air di titik Nol Ibukota Negara (IKN) di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur beberapa hari lalu, cerita tentang satu tugu sederhana di Solo, tiba-tiba berkelebat kembali dari ingatan masa kanak-kanak saya.
Sebagian warga Kota Solo boleh jadi sudah mengenal baik keberadaan tugu ini.
Saya pribadi merasa punya keakraban tersendiri dengan tugu ini: saat remaja hampir setiap hari berangkat sekolah melewatinya.
Konon tugu tersebut dibangun dari dari tanah yang disatukan dari seluruh Indonesia.
Beberapa tahun kemudian, ketika membaca media lokal saya baru mendapat kebenaran cerita sejarah tentang bangunan berbentuk lilin ini.
Sebagian orang menyebutnya Tugu Lilin atau Tugu Kebangkitan Nasional. Awalnya bernama Tugu Peringatan Pergerakan Kebangsaan.
Letaknya di persilangan Jalan Kebangkitan Nasional dan Jalan Dr Wahidin, di pojok depan Sekolah Teknik Menengah (STM) Murni.
Sekolah ini milik Perkumpulan Perguruan Netral. Saat Indonesia dijajah Jepang, namanya berubah menjadi Perkumpulan Perguruan Murni. Perkumpulan ini berdiri pada 1914.
Pendirinya adalah nama-nama kaliber dalam dunia pergerakan kebangsaan Indonesia: Dr. Wahidin Sudirohusodo, Dr. Rajiman Wedyodiningrat, Pangeran Wuryaningrat dan Pangeran Notodirejo.













