Perkumpulan ini hadir tujuh tahun setelah berdirinya organisasi pemuda Budi Utomo. Hari kelahiran organisasi ini — 20 Mei — di kemudian hari kita peringati selalu sebagai Hari Kebangkitan Nasional.
Tugu Pergerakan Kebangsaan…
Pada 1931, sejumlah perwakilan pemuda dan aktifis pergerakan dari berbagai wilayah di Indonesia mengikuti Kongres Indonesia Raya di Surabaya.
Dalam kegiatan tersebut, ada keinginan para peserta untuk membangun tugu peringatan 25 tahun Kebangkitan Nasional di berbagai kota.
Ide ini akhirnya hanya terealisasi di Solo, dieksekusi oleh Pangeran Wuryaningrat, anak mantu Paku Buwono X – raja Kasunanan Surakarta, Solo.
Sebelum tugu ini dibangun pada 1933, dimulailah upacara penyatuan gumpalan tanah dari berbagai penjuru Nusantara yang dibawa oleh para aktifis pergerakan kebangsaan ketika itu.
Peristiwa itu boleh jadi dianggap konyol dan ditertawakan oleh pihak-pihak yang menentang ide mewujudkan kebangsaan Indonesia.
Namun meleburkan gumpalan tanah dari penjuru Nusantara di kala itu merupakan manifestasi simbolik dari keyakinan bahwa suatu saat gerakan yang mereka lakukan akan menyatukan sebuah cita-cita luhur; akan mewujudkan impian nan bercahaya tentang kelahiran bangsa merdeka bernama Indonesia













