Adanya Direktorat Jenderal (Ditjen) Pengelolaan Utang di bawah Kementerian Keuangan yang merupakan unit khusus yang dibentuk untuk mengatasi persoalan ini, menurut Asvi tidak bisa berbuat banyak.
Karena sejarah mencatat, utang negeri ini kepada bangsa lain makin tahun makin terus membengkak.
Staf Khusus Presiden Bidang Ekonomi Firmanzah mengakui dari segi nilainya jumlah utang Indonesia memang terus bertambah.
Tetapi, dari segi kemampuan membayar, pemerintahan saat ini jauh lebih baik.
“Kita tentu perlu melihat kemampuan kita membayar utang. Salah satu faktor kenapa kita mengalami krisis tahun 1998 adalah porsi utang kita terhadap PDB itu cukup tinggi, mencapai 150 %,” kata dia.
Berdasarkan data Kementerian Keuangan, hingga akhir Juni 2013, utang pemerintah Indonesia tembus mencapai angka Rp 2.036,14 triliun.
Diakui, Firmanzah memang benar utang Indonesia mencapai lebih dari Rp 2.000 triliun.
Tetapi, dia mengingatkan PDB Indonesia jauh lebih tinggi dari utang yang ada.
Pada semester I 2013, kita berhasil mencatatkan investasi terbesar realisasinya di sektor riil sepanjang sejarah.
Tahun ini saja, porsi utang Indonesia hanya 23 %.
Artinya, beban utang negara tidak banyak mempengaruhi stabilitas perekonomian negara.













