JAKARTA-Pembangkit listrik berbasis Energi Baru Terbarukan (EBT) akan terus mengalami peningkatan dalam kurun waktu sepuluh tahun mendatang seiring rencana Pemerintah melakukan penambahan kapasitas pembangkit listrik sekitar 40.000 Mega Watt (MW).
Penambahan ini sebagai bagian dari antisipasi atas meningkatnya demand (permintaan) sesuai hasil prognosis Kementerian ESDM.
“Kita pastikan dari tambahan 40.000 MW selama 10 tahun ke depan, hampir 52 persen berbasis EBT berbagai jenis,” kata Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Rida Mulyana saat menyampaikan kuliah umum kepada peserta program Merdeka Belajar Kampus Merdeka Gerakan Insiatif Listrik Tenaga Surya (Gerilya) di Jakarta, Selasa (21/9).
Rida memaparkan, kapasitas pembangkit listrik hingga bulan Juni 2021 sebesar 73.341 MW dimana pembangkit berbasis fosil masih berperan penting sebagai penopang produksi listrik, yaitu Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU).
“Secara generation cost, PLTU memang masih murah. Jadi biar tarif listriknya tidak mahal ke rakyat sehingga meningkatkan daya beli masyarakat dan membuat industri makin kompetitif,” ungkap Rida.