Sistem girder dengan bentang menengah tersebut dapat mempercepat konstruksi dibanding sistem _pile slab_ dengan bentang pendek (5-12 meter) karena mampu mengurangi jumlah pemancangan tiang di laut yang butuh waktu lama dengan tingkat resiko hambatan pekerjaan tinggi.
Terdiri dari 4 lajur dengan 2 jalur masing-masing, jembatan ini dikerjakan menggunakan _slab girder full precast_ yang juga pertama kali diterapkan di pekerjaan sejenis dan dapat dimanfaatkan sebagai akses konstruksi sehingga juga mempercepat prosesnya.
Pada metode ini, _precast_ telah dirakit sebelumnya dan tidak membutuhkan pengecoran slab di atas tongkang di laut untuk meminimalisir resiko serta mempercepat proses konstruksi.
“Bukan hanya itu, kita juga menggunakan 3 crane di atas 3 tongkang yang bekerja secara paralel untuk melakukan instalasi girder dan plat precast,” terang sosok yang akrab disapa Aji ini.
Terbukti, segala upaya dan terobosan yang dilakukan tim proyek membuahkan hasil akan selesainya _trestle_ ini dalam waktu yang lebih cepat dari umumnya pekerjaan trestle yang dilaksanakan
Pencapaian ini pun tidak serta merta menjadi milik tim proyek saja, karena juga didukung oleh keterlibatan anak perusahaan, WIKA Beton pada suplai PCI Girder dan WIKA Rekayasa Konstruksi pada instalasi MEP untuk proses _finishing_ jembatan.














