Menurutnya, pohon lontar memiliki arti penting bagi kehidupan masyarakat Rote Ndao karena merupakan warisan budaya yang tidak dapat ditinggalkan. Selain itu, lontar mencerminkan totalitas kehidupan orang Rote. “Lewat lontar, mereka membangun sejumlah kearifan lokal. Batang, bulir, daun, pelepah, nira, tulang daun, buah, sabut, dan pucuk lontar membangun peradaban dan budaya lokal mereka,” papar Euis.
Berdasarkan data Kabupaten Rote Ndao, terdapat perkebunan lontar seluas 15.398 Ha dengan kapasitas produksi 5.213 ton per tahun yang dihasilkan oleh 25.530 rumah tangga perkebunan. “Lontar merupakan tanaman multi fungsi dan sangat potensial untuk dikembangkan,” ujar Euis.
Misalnya, batang, daun, pelepah, dan tulang daunlontardapat dimanfaatkan untuk membangun rumah. Daunnya juga bisa dipakai untuk perkakas dapur, alat timba air yang disebut haik, dan penghias alat musik sasando. Pucuk daun yang berwarna putih dimanfaatkan masyarakat untuk menganyam topi lokal yang disebut ti’ilangga, pembungkus tembakau atau rokok tradisional, dan tulang daun untuk tali atau pengikat. Bahkan, mayang lontar disadap dan diolah menjadi gula. Berbagai macam produk yang dihasilkan dari sadapan lontar antara lain gula lempeng, gula cair, dan gula semut.














