Ia mencontohkan, ada orang yang tidak tahu diumumkan suku bunga sekian, belum termasuk premi risiko. Dikatakan x bunga dasarnya, beberapa hari kemarin diumumkan, tetapi sekarang dikenakan premi risiko dimana untuk pengusaha mikro itu besar sekali. “Jadi bunga kredit mikronya tinggi dan itu beda sekali dengan yang diumumkan. Karena itu, perlu ada penjelasan yang panjang sehingga tidak menimbulkan kemarahan orang dan sebagainya,” terangnya.Â
Namun, lanjutnya, untuk sektor UMKM hal terpenting bukanlah tingginya suku bunga kredit, tetapi adalah akses usaha kecil dan mikro untuk mendapatkan kredit dengan mudah dan cepat. “Yang penting bagi UMKM adalah akses yang mudah dan cepat untuk mendapatkan kredit. Suku bunga kredit di BPR masih banyak yang di atas 30 % tetapi mereka ambil karena prosesnya cepat,” ujarnya.
 Ia mengungkapkan masih tingginya premi risiko di tanah air karena Indonesia pernah mengalami krisis. Waktu krisis, Non-Performing Loan (NPL) bank-bank itu besar, dan bank masih khawatir pada industri tertentu yang NPL-nya besar di masa krisis. “Selain itu, persaingan yang makin ketat dewasa ini juga menyebabkan margin laba makin tipis. Sepuluh bank teratas saja berebut mendapatkan dana,” kata dia.














