JAKARTA-PT Bank Bukopin Tbk (BBKP) lebih tertarik menggelar right issue atau obligasi dibanding mengikuti kebijakan yang ditawarkan Direktorat Jenderal Pajak untuk melakukan revaluasi asset dalam rangka menggenjot rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR).
Sekalipun ada insentif pajak, tapi revaluasi asset kurang menarik karena hanya mendongkrak modal sebesar Rp600 miliar.
“Revaluasi asset hanya permainan angka. Dan secara nominal tidak terlalu signifikan. Karena saya masih khawatir, saat ini ekonomi makro belum oke banget. Jadi pengennya sih, saya lakukan revaluasi asset itu hanya sebagai buffer,” kata Direktur Utama Bukopin, Glen Glenardi di sela-sela konferensi pers kinerja triwulan III-2015 di kantornya, Jakarta, Rabu (28/10).
Untuk itu, sekalipun dengan revaluasi asset ada insentif pajak penghasilan (PPh) final higga akhir tahun kena tarif 3 persen dari tariff normal 10 persen, pihaknya masih belum tertarik dan hingga akhir tahun dipastikan tidak akan melakukan revalauasi aset.
“Tapi tidak apa-apa lah (tidak melakukan revaluasi asset). Karena kontribusi ke CAR Cuma Rp600 miliar. Itu kecil banget. Karena umumnya bank itu asetnya di gedung. Kan lainnya sewa. Jadi kita mainin di belanja operasi (operating expenditure/opex) tidak di belanja modal (capital expenditure/capex), tuturnya.













