JAKARTA-Defisit transaksi berjalan yang kian melebar membuat kondisi perekonomian Indonesia dimasa yang akan datang menjadi rapuh.
Namun sayangnya, upaya pemerintah dalam menekan defisit ini kurang strategis.
“Defisit neraca perdagangan Indonesia, ini sudah terjadi sejak lama,” ujar pengamat ekonomi Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Keuangan Negara (LPEKN) Sasmito Hadinagoro di Jakarta, Selasa (5/2).
Saat ini kata dia, pangan impor yang masuk ke Indonesia sangat masif. Tetapi anehnya, Mentri Perdagangan mematok bea masuk impor pada rate yang rendah untuk produk impor sektor pertanian.
Padahal, semestinya, produk pangan impor ini dipatok dengan rate tinggi sehingga masih ada celah untuk diturunkan pada saat diprotes. Dengan demikian, kompetitivenes produk pertanian didalam negeri masih punya bargaining position yang lebih baik.
“Sekarang, kondisi sudah terlanjur, dimana produk impor membanjiri Indonesia. Bayangkan saja, garam saja diimpor, ikan lele di impor. Ini kan kebangetan,” tegas dia.
Menurut dia, kebijakan Kementrian Perdagangan yang membuka keran impor tidak memperlihatkan keberpihakan untuk menjaga defisit transaksi perdagangan supaya tidak dalam posisi negatif.
“Ini betul-betul sangat memprihatinkan. Beras, kita menuju surplus, tetapi demi alasan buffer stock, sudah teken kontrak dengan Vietnam dan Thailand dalam jumlah yang besar sehingga petani dalam negeri tergencet,” ujar dia.













