Ketua DPP PKB itu mengatakan, ada dua skema yang disiapkan.
Yaitu murur, tidak turun dari bus di Muzdalifah. Jemaah tetap di bus dan mereka akan bermalam dibawa dengan bus ke Mina.
Mereka tidak bermalam di tenda Mina, tapi langsung melontar jamarot.
“Dari Jamarot turun ke hotel, itu jaraknya sekitar 1,5 km. Dan mereka di situ menginap di hotel. Tentu lebih nyaman, lebih lapang, dan konsumsi ditanggung syarikah, bukan ditanggung masing-masing,” papar Mardas.
Politisi kelahiran Pangikiran, Tapanuli Selatan, Sumatera Utara itu menjelaskan bahwa sebanyak 8 syarikah akan melayani jemaah Indonesia.
Setiap syarikah akan melayani jemaah yang akan tanazul dan murur.
“Ini terobosan yang menurut kami perlu dikawal. Siapkah ini? Dari laporan, mereka siap. Tapi karena ini melibatkan berbagai pihak, kami mendapat laporan bahwa yang melayani jemaah sebanyak 8 syarikah,” ungkap Mardas.
Dia mengatakan, persiapan haji kali ini lebih matang dari tahun-tahun sebelumnya.
Pihaknya ingin dilakukan antisipasi agar jemaah bisa diurai I Muzdalifah dan tidak crowded seperti pada 2023.
Namun, yang menjadi persoalan adalah tenda di Mina, karena semua sudah penuh dengan manusia.
Maka, ada 37.600 jemaah yang akan ditarik masuk tanazul.














