Menurut Kitty, pemanfaatan listrik dari panas bumi dalam produksi hydrogen hijau dan amonia hijau akan membantu industri dan sector transportasi dalam upaya dekarbonisasi. Inisiatif ini juga sejalan dengan target pemerintah dalam meningkatkan bauran energi terbarukan dan memperkuat ketahanan energi nasional melalui diversifikasi sumber energi, terutama dari energy terbarukan.
Kolaborasi antara PGE dan Pertagas, papar Kitty, akan mempercepat pengembangan hidrogen hijau dan amonia hijau serta menjadi landasan bagi Pertamina dalam membangun green energy hub. Saat ini, belum ada pemain dominan di energi hijau.
Menurut Kitty, dengan membawa mandat mewujudkan ketahanan energi dan hilirisasi industri, Pertamina berpeluang menjadi pemain utama energi hijau, tidak hanya karena skala ekonominya, tetapi juga melalui pendekatan economics of speed – kecepatan dalam pengembangan teknologi serta optimalisasi infrastruktur dan rantai pasok.
Kitty menjelaskan, kerja sama kedua ini mencakup berbagai aspek, di antaranya pertukaran informasi teknis yang mencakup analisis kondisi operasi, komposisi thermal, elektrolisis, serta identifikasi potensi pasar dan data terkait lainnya.
Selain itu, lanjutnya, kedua perusahaan akan berkolaborasi melakukan kajian teknis seperti evaluasi kelayakan proyek dan identifikasi skema penggunaan listrik panas bumi untuk menghasilkan hidrogen hijau dan amonia hijau.













