“Kenyataannya kita masih sulit mendapatkan bahan baku, sehingga bahan baku masih di import dari luar,” jelas dia.
Sehingga invasi industri yang dilakukan oleh orang-orang asing ke Indonesia terkesan hanya ingin mendapatkan manpower yang murah dan ingin mendapatkan pasarnya saja di Indonesia.
“Belum lagi bicara mengenai alih teknologi, yang sudah sering dibicarakan dari jaman orde baru. Sebagai salah satu contoh saja, industri otomotif misalnya. Kalau kita mau blusukkan akan kita temui bahwa dari kondisi pra dan pasca industry otomotif semuanya dipegang oleh pihak luar. Kalaupun ada industri menengah yang ditempelkan ke main industrinya paling hitungannya masih sedikit sekali,” ujar Ecky.
Untuk itu kata dia, Indonesia membutuhkan kemandirian industri.
Pemerintah harus segera membuat blue print yang kuat dan jelas. Pemerintah harusnya memiliki rencana dan grand design yang kuat dan malestone atau langkah-langkah yang jelas.
“Jelasnya kita Indonesia ini ingin kuat di industry apa,,” kata Ecky.
“Potensi Indonesia itu besar kalau saat ini kita sudah banyak tertinggal maka kita harus melakukan lompatan-lompatan. Agar industry yang tumbuh di kita juga punya daya saing dan mendunia. Apalagi setelah adanya kesepakatan di APEC kemarin, dengan semakin terbukanya liberarilasi. Jangan sampai kebijakan dan langkah yang dibuat menjadi problem baru bagi bangsa ini, “tutup Ecky.














