Karena itu, mustahil pada Pilpres 2014 mendatang parpol mampu menampilkan pemimpin muda sebagai capres maupun cawapres.
Sementara itu, Wakil Ketua MPR Lukman Hakim Saefuddin, menilai sebagai anak bangsa tidak boleh pesimis.
Bahwa Indoensia sebagai negara besar ini memang membutuhkan figur pemimpin yang besar pula. Baik secara kualitas, wawasan kebangsaan yang memadai, memiliki semanngat pembaharuan, gesit, progresif, dan inovatif, yang tidak lagi membutuhkan pencitraan dirinya sendiri.
Juga integritas, kesalehan sosial, anti korupsi, amanah, memahami nilai-nilai keagamaan, kredibel, kapabel, dan tak mempunyai beban masa lalu.
”Karena beban masa lalu itu bisa menyandera dirinya ketika memimpin,” tuturnya
Selain itu menurut Lukman, seorang pemimpin harus memiliki solusi dalam mengatasi berbagai persoalan bangsa yang sangat majemuk ini.
Terlebih, Indoensia sudah dilihat oleh dunia untuk terlibat aktif dalam kemajuan dan ketertiban dunia internasional. Untuk itu, pintu masuknya seorang capres tak ada lain adalah parpol dan UU Pilpres. “
Saya mendukung PT pilpres 20 % itu dihapus saja dan kembali ke UUD 1945 bahwa capres dan cawapres itu diusung oleh parpo,atau gabungan parpol, dan agar capres alternatif bisa muncul. Untuk itu, tak bisa seorang capres hanya berdasarkan elektabilitas atau popularitas survei saja. Apalagi lembaga survei ada yang dipesan,” tegas Lukman.













