JAKARTA-Potensi mengembangkan industri asuransi mikro saat ini sangat besar. Pasalnya, jumlah penduduk Indonesia yang sangat besar belum diimbangi dengan penetrasi asuransi yang masih berada di bawah 2% dari produk domestik bruto (PDB).  Karena itu, pemerintah terus mendorong penetrasi asuransi ke kalangan masyarakat berpenghasilan rendah lewat asuransi mikro.  “Masyarakat berpenghasilan rendah membutuhkan asuransi mikro sehingga pada saat bergerak menjadi masyarakat kelas menengah, mereka sudah mengenal asuransi,” ujar anggota Dewan Komisioner dan Kepala Eksekutif Pengawas Industri Keuangan Non Bank Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Firdaus Djaelani  saat Konferensi Asuransi Mikro Internasional ke-9 di Hotel Sultan, Jakarta, Selasa (12/11).
Menurut hasil penelitian yang baru diterbitkan Munich Re Foundation dan GIZ, sektor asuransi mikro di Asia dan Oseania telah mencapai 172 juta jiwa dan mencakup properti, yang menggambarkan 40 persen laju pertumbuhan pada 2010 dan 2012. India memimpin pasar dengan lebih dari 100 juta, sementara Malaysia dan Indonesia memiliki pasar asuransi mikro dengan prospek paling cerah dengan laju pertumbuhan masing-masing sebesar 185 persen dan lebih dari 100 persen pada periode yang sama.













