JAKARTA-Nilai tukar rupiah pada perdagangan Kamis (4/7) diperkirakan bergerak stagnan dengan kecendrungan melemah karena imbas negatif dari sentimen-sentimen yang terjadi sebelumnya di pasar uang, baik yang berasal dari internal maupun eksternal. “Rupiah diperdagangkan di kisaran 9.925- 9.987 per dollar Amerika Serikat (AS),” ujar Kepala Riset Trust Securities, Reza Priyambada di Jakarta, Rabu (3/7).
Menurut dia, sentimen yang menekan rupiah merupakan kombinasi faktor internal maupun eksternal. Dari internal kata dia, tekanan terhadap rupiah dipicu oleh rilis inflasi dan neraca perdagangan yang masih defisit.
Tekanan terhadap rupiah mencapai puncaknya setelah Bank Dunia menurunkan target pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 6,3 persen ke 5,9 persen. Hal ini membuat pelaku pasar bertanya-tanya, apakah mata uang garuda cukup kuat dari sisi fundamental. “Selain itu, sentimen tambahannya adalah kenaikan harga BBM,” imbuh dia.
Sedangkan dari eksternal kata dia, masih terkait dengan program The Fed. Saat ini, muncul anggapan dari pelaku pasar terkait dengan rencana The Fed menghentikan program stimulusnya.
Data-data ekonomi AS yang telah di rilis memang berada diatas estimasi pelaku pasar. Akhirnya, pelaku pasar berasumsi bahwa kalau ekonomi AS bergerak ke arah pemulihan maka program stimulus berpeluang dikurangi. Ketika program stimulus dikurangi maka pasokan dollar AS berkurang dipasar uang sehingga nilai mata uang dollar AS mengalami peningkatan. Dan ini menekan rupiah,” kata dia.














