Dengan lebih dari 4,3 juta ASN aktif dan 2,8 juta pensiunan, dampak totalnya terhadap sirkulasi uang di pasar domestik mencapai puluhan triliun rupiah.
Ini berarti dana segar langsung masuk ke ekonomi riil, menggerakkan perdagangan, jasa, dan UMKM di berbagai daerah.
Namun, persoalannya bukan hanya bagaimana memompa, tetapi di mana uang itu mengalir.
Jika stimulus fiskal hanya berhenti di konsumsi kelas menengah atas seperti belanja impor, gaya hidup digital, atau produk non-lokal, maka efek penggandanya menjadi rendah.
Karena itu, desain kebijakan daya beli harus disertai mekanisme penyaring kebocoran ekonomi agar dana berputar di sektor domestik yang padat karya.
Daya Beli dan Struktur Kelas Menengah
Kelas menengah Indonesia kini berada pada titik rawan. Setelah pandemi, banyak keluarga yang dulunya “mapan” kini menjadi “nyaris miskin”, masih bekerja tetapi kehilangan daya beli akibat kenaikan harga pangan, biaya energi, dan cicilan. Inilah yang disebut kelas menengah rapuh (fragile middle class).
Menurut data BPS 2024, pertumbuhan konsumsi rumah tangga melambat di kisaran 4,8 persen, lebih rendah dari periode pra-pandemi yang mencapai 5,4 persen.
Artinya, masyarakat masih menahan belanja karena beban harga pokok dan ketidakpastian pendapatan.














