Lebih lanjut Rudy menjelaskan, bakal gagalnya swasembada daging juga diakibatkan oleh tidak berjalannya program penundaan pemotongan sapi produktif. “Sapi-sapi produktif tidak boleh dipotong. Sebagai penggantinya, setiap ekor sapi pemerintah memberikan stimulan dana kepada pemilik sebesar Rp800.000. Ini merupakan salah satu program untuk mencapai swasembada,” terangnya.
Namun demikian, jelas dia, tingginya jumlah impor yang juga dipermainkan oleh importir, pada akhirnya memaksa para peternak untuk memotong sapi produktif. “Sekarang ini, ada bisnis sapi yang menggiurkan. Harga daging sapi sedang mahal. Peternak memilih untuk memotong sapi produktif agar mendaptkan keuntungan lebih,” katanya.
Sementara itu ditempat yang sama, Asosiasi Pengusaha Daging dan Sapi Potong Indonesia (Apdasi) berharap bisa mendapatkan 10 persen dari kuota impor sebesar 8.000 ton. Permintaan ini tidak terlepas dari keinginan asosiasi untuk menekan harga jual daging sapi di pasar.
“Kami meminta 10 persen dari 40 persen kuota impor daging beku. Jadi diharapkan importir besar hanya bisa mendapatkan 30 persen kuota impor. Kalau ini bisa bejalan, kenaikan harga daging sapi bisa ditekan,” kata Ketua Umum Apdasi, Dadang Iskandar.















