SBY mengaku telah memperoleh informasi yang sudah dikonfirmasikan, bahwa ada pihak yang menarik-narik sejumlah perwira tinggi untuk mendukung calon tertentu, dan tidak perlu mendengar apa yang dikatakan Presiden yang sebentar lagi akan menjadi ‘kapal karam’.
Ajakan-ajakan seperti itu jelasnya sama dengan mengajari para prajurit/tamtama/dan perwira TNI-Polri untuk meninggalkan sumpah prajurit, yaitu Sapta Marga. “Itu betul-betul in subordinasi. Oleh karena itu hati-hati, jangan tergoda. Saya khawatir niat dan tujuannya tidak baik, bagi perwira, bagi TNI-Polri, bagi lembaga, dan bagi negara,” tegasnya.
Menurutnya, para komandan utama di lingkungan TNI-Polri adalah perwira terbaik. Karena itu, almamater tempat mereka berasal di TNI pasti tidak rela jika mereka mau ditarik-tarik ke politik. “Sebagai pemimpin TNI-Polri, tegas SBY, juga tidak rela. Kami mencintai Anda semua untuk menuju kejayaan di negeri ini,” pesannya.
Meski demikian, Presiden SBY menegaskan, jendral/laksamana/marsekal bukan tidak boleh menjadi pemimpin politik atau mengisi jabatan-jabatan politik. Hanya saja, SBY mengingatkan ada aturan dan etika yang harus dipatuhi, yakni harus mundur dulu dari jabatan TNI dan Polri. “Era Dwi Fungsi TNI-Polri sudah berakhir, era kekaryaan sudah selesai. Karena itu, kalau itu terjadi (berebut jabatan politik), perwira di bawah dan prajurit akan bingung,” sebutnya.













