Sebagai saksi dalam kasus Obor Rakyat, Maman berharap kinerja polisi harus maksimal, karena di duga tabolid ini beredar dari kalangan dekat istana.
Masyarakat harus mendapat informasi yang jelas siapa saja yang terlibat agar ini menjadi pembelajaran politik dalam hidup berbangsa, tuturnya.
Sebagai Kader Nahdhatul Ulama (NU), Maman sangat tersinggung dengan pengiriman Tabloid Obor Rakyat ke Pesantren-Pesantren Berbasis NU.
Ia menduga pihak yang menyebarkan Obor rakyat sengaja menyalakan api kebencian, memprovokasi kerususan dan menganggap keluarga pesantren mudah dpengaruhi.
“Ini sebuah penghinaan besar dan bodoh. Pesantren selalu bersikap dewasa dan rasional dalam menerima berita. Kami bisa membedakan mana berita, mana fitnah. Pesantren bisa memilah dan memilah informasi mana yang membangun, mana yang meruksak ,” tegas Kyai Muda Kharismatik ini.
Maman menghimbau semua pihak untuk menghentikan propaganda hitam yang akan memancing konflik horizontal. “Kasus Obor Rakyat kalau Pelakunya tidak dipidana akan jadi preseden buruk bagi masa depan kehidupan demokrasi di Indonesia,” pungkasnya.














