Alih-alih menguntungkan Palestina, boikot tersebut malah berujung pada PHK terhadap tenaga kerja di dalam negeri.
“Artinya, ketika kita memboikot itu yang kita lakukan apakah sudah tepat atau belum? Apakah produk yang kita boikot itu terafiliasi Israel? Apakah kita pernah melakukan klarifikasi bahwa produk betul-betul terafiliasi? atau jangan-jangan ini cuma persaingan bisnis saja,” katanya.
Edo mencontohkan produk air minum “A” yang memiliki saingan bisnis “L”.
Kemudian ada sebuah organisasi yang mengatasnamakan Islam merilis daftar produk boikot dan memasukan produk “A”.
Dia melanjutkan, artinya siapapun dapat membentuk daftar produk dengan leluasa agar masyarakat percaya.
“Tapi pernahkah kita mengkaji siapa yang buat ini? Apakah kalau dia menyebutkan organisasi Islam kemudian mewakili umat Islam? Apakah daftar produk yang dia buat itu kredibel? Itu perlu ditelusuri lebih detail,” katanya.
Dia menegaskan, artinya bisa jadi organisasi yang mengatasnamakan Islam itu merupakan entitas “siluman” yang yang dibiayai perusahaan untuk merilis dan membuat daftar produk yang harus diboikot.
Edo mengimbau agar jangan sampai niat baik publik untuk menghentikan kebiadaban Israel malah dimanfaatkan pihak atau perusahaan tertentu untuk mencari keuntungan.















