Karena itu, dia berharap agar prediksi BPS bisa menjadi masukan bagi pemerintah untuk tidak sesumbar dalam publikasi rencana kenaikan pajak impor barang mewah. “Kalau baru rencana, tetapi sudah digaung-gaungkan, maka orang akan beli secara besar-besaran,” ucapnya.
Selain itu, kata dia,faktor lain yang menjadi pemicu kenaikan impor April 2014 secara month-to-month adalah momentum menjelang puasa Ramadhan, Lebaran dan tahun ajaran baru. “Momentum ini sangat berdekatan, sehingga ini juga yang paling mempengaruhi,” katanya.
Suryamin merincikan, nilai impor April 2014 mencapai US$16,26 miliar atau mengalami kenaikan 11,93 persen jika dibandingkan dengan Maret 2014. “Tetapi, kalau dibanding April 2013, masih turun sebesar 1,26 persen,” ucapnya.
Dia menyebutkan, impor nonmigas April 2014 mencapai US$12,56 miliar atau meningkat 19,32 (m-t-m), sedangkan impor migas mencapai US$3,7 miliar atau menurun 7,55 persen. “Namun, impor migas masih tercatat naik 1,76 persen kalau dibandingkan dengan April 2013,” katanya.
Suryamin mengungkapkan, nilai impor nonmigas terbesar pada April 2014 ada pada golongan barang mesin dan peralatan mekanik yang senilai US$2,35 miliar atau meningkat 17,89 persen (m-t-m). “Negara pemasok terbesar ditempati Tiongkok (US$2,86 miliar), Jepang (US$1,62 miliar) dan Singapura senilai US$0,96 miliar,” tuturnya.












