Selain pameran, rangkaian misi dagang diisi dengan kegiatan forum bisnis dan one-on-one business matching, serta kunjungan ke beberapa importir di Aljazair dan Yordania. Melalui rangkaian acara tersebut, tercatat beberapa ketertarikan dari importir Aljazair dan Yordania untuk menjalin kerja sama bisnis dengan Indonesia. “Salah satunya, ada importir Aljazair yang ingin menjadikan Indonesia sebagai pemasok utama produk halal ke Aljazair sehingga Aljazair bisa jadi titik penghubung kegiatan distribusi ke tujuh negara di wilayah Afrika (Mali, Tunisia, Maroko, Libya, Nigeria, Mauritius, dan Burkina Faso). Selain itu juga ada rencana merealisasikan pembentukan sister Kamar Dagang dan Industri (Kadinda) Aljazair dengan Kadinda DKI Jakarta,” kata Dirjen Nus.
Direktur Jenderal ALGEX, Khamnou Boukhalfa menyambut positif pelaksanaan misi dagang dan upaya fasilitasi untuk mempertemukan para pelaku usaha kedua negara. “Melalui fasilitasi (misi dagang) ini, kami meyakini dapat meningkatkan kerja sama ekspor produk nonmigas kedua pihak,” ujarnya.
Pada kunjungan ke Yordania, Dirjen Nus meninjau lokasi rencana pendirian Pusat Distribusi Produk Indonesia (PDPI) di Aqaba Special Economic Zone. Aqaba adalah satu-satunya pelabuhan laut di Yordania yang ditetapkan sebagai kawasan ekonomi khusus dengan lokasi yang sangat strategis. Tempat ini merupakan pintu masuk kebutuhan utama Yordania sekaligus pintu keluar produk ekspor dan re-ekspor Yordania ke negara-negara di sekitarnya. “Pilot project pembukaan PDPI di pelabuhan Aqaba diharapkan dapat meningkatkan arus barang ekspor Indonesia ke kawasan Timur Tengah dan Afrika bagian Utara dengan memanfaatkan free trade area (FTA) bilateral Yordania dengan negara-negara mitranya,” imbuh Nus.












