Namun dilain pihak tanaman ini belum dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh indutsri di dalam negeri.
Dari data yang ada, 90% hasil porang justru untuk pasar ekspor.
“Sebagian besar produk porang yang diekspor adalah berupa chips porang dan tepung,” jelasnya.
Menurutnya, harga jual yang cukup tinggi menjadikan porang komoditi yang menarik untuk para petani.
Harga umbi saat ini Rp.8000,- per kilo yang dapat meningkat hingga Rp. 14,000,- saat harga sedang naik.
Dalam 1 ha penanaman dapat ditanam 40.000-80.000 biji katak yang dapat menghasilkan rata–rata 400gram – 700 gram jika panen ditahun pertama hingga 2 kg – 6 kg jika panen ditahun kedua.
“Dari data ini rata-rata keuntungan petani bisa mencapai 400 juta per ha per tahun,” jelas Abimanyu pelaku pertanian porang dalam wawancara.
Oleh karenanya, banyak petani yang berlomba-lomba menanam porang dilihat dari bermunculannya berbagai komunitas, koperasi, BUMDes hingga asosiasi porang diberbagai wilayah.
Hal ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi hilirisari produk jadi disektor industri yang dapat mengekstrak kadar Glukomanan pada porang.
Glukomanan merupakan 75% bahan yang terkandung dalam umbi porang kuning Indonesia.
Umbi ini menjadi bahan baku penstabil berbagai industri seperti industri makanan dan minuman, industri bahan baku kedokteran, industri tekstil dan kertas serta kosmetik dan produk harian seperti shampoo dan pasta gigi.













