Dengan demikian, MoDik adalah simbol gembala yang berbau domba tersebut.
Sri Paus Fransiskus pernah mengkritik, seorang gembala janganlah terlihat seperti orang yang pulang dari pemakaman, gembala yang berwajah sedih dan penuh rasa kedukaan, gembala seharusnya menyampaikan kabar gembira.
Gereja Katolik semestinya menjadi rumah sakit di medan perang.
Gereja Katolik bukan menjadi rumah untuk orang yang sempurna saja, melainkan bagi siapa saja yang ingin mencari Tuhan.
Gereja Katolik seharusnya didedikasikan bagi orang miskin, yang terluka, lemah dan tersingkir. Pesan pastoral Sri Paus Fransiskus itu sungguh kuat dan mendalam bagi Gereja Katolik.
Menurut Sri Paus Fransiskus, gembala juga jangan terlalu sibuk mengurusi perkara administratif gerejani.
Jika para pemimpin Gereja Katolik lebih sibuk dengan urusan administrasi, maka bisa jadi wajah Gereja Katolik yang dihadirkan lebih berupa Gereja Katolik yang sibuk melayani dirinya sendiri.
Sebab kemapanan dapat menyebabkan Gereja Katolik sakit secara spiritual.
Dan, gembala adalah pelayan umat Allah, gembala bukan justru melayani dirinya sendiri.
Akhirulkalam, proficiat, nderek bingah dan mohon berkat, semoga Bapa Uskup Agustinus Tri Budi Utomo semakin meneladani spiritualitas pastoral Sri Paus Fransiskus.













