Pengalaman unik itu membekas dalam ingatan saya, biasanya kami retret dengan metode doa dan refleksi.
Saat itu, kami dibawa keluar dari altar menuju ke pasar. Sebagai calon imam, seminaris tidak boleh hanya mengenal altar, tetapi juga realitas sosial yang timpang dan penuh ketidakadilan.
MoDik ialah sahabat Romo Nanglik, Petrus Canisius Edi Laksito dan Romo Kurdo, Alexius Kurdo Irianto.
Mereka adalah tiga serangkai imam Keuskupan Surabaya yang antikemapanan. Kala itu, Romo Nanglik menjabat sebagai Rektor Seminari Garum.
Romo Nanglik memiliki gaya kepemimpinan yang mirip dengan MoDik, sederhana, militan, ia juga rela memanggul salib, dan berpihak kepada kaum miskin.
Walaupun pada akhirnya, saya menemukan panggilan baru dalam arena politik hukum di Jakarta. Sentuhan formasi mereka, sungguh bernilai ketika saya mesti berjuang di luar tembok seminari.
Selama meniti karir di Jakarta, saya menghidupi batin saya dengan spiritualitas lepas bebas, yakni keberanian untuk selalu mengandalkan Tuhan.
Kita tidak boleh terikat pada kelekatan-kelekatan tidak teratur yang mampu membelenggu tujuan utama hidup, yakni demi kemuliaan Tuhan. Mengandalkan Tuhan artinya membiarkan hidup kita dipimpin oleh rencana dan sesuai dengan kehendak-Nya.













