Sikap lepas bebas dan mengandalkan Tuhan bukanlah hal yang mudah. Karena itu, Yesus bersabda, ”Barang siapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku. Maka, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.”
Semenjak saya meninggalkan padepokan Seminari Garum, lama sekali saya tidak berjumpa dengan MoDik. Saya melanjutkan kuliah di Jogja dan Jakarta, menekuni bidang politik hukum.
Pada suatu ketika, saya bertemu kembali dengan MoDik di Paroki Katedral Surabaya. Saat itu, ia menjabat sebagai Vikaris Jenderal Keuskupan Surabaya. Kebetulan saya ada keperluan penulisan tentang isu intoleransi di Jawa Timur. Ia masih seperti yang dulu tetap sederhana dan egaliter, meski telah menjadi orang nomor dua di Keuskupan Surabaya.
Saya sempat menginap semalam di wisma Keuskupan Surabaya. Esok harinya saya menghadap MoDik.
Saya masih ingat saat itu diterima di ruang kerjanya yang penuh tumpukan buku dan kertas kerja.
Penampilannya masih sama seperti yang dulu, sederhana, hanya memakai kemeja hitam kolar imam, dibalut dengan celana jeans serta memakai sendal gunung. Sembari merokok, kami berbincang santai.
MoDik, sosok imam yang penuh belarasa dan memiliki jejaring luas, termasuk dengan komunitas Muslim di Jawa Timur. Banyak suri teladan, yang saya petik dalam perbincangan pagi itu. Meski dalam kesempatan yang sempit, ia tidak lupa memberikan pesan moralnya.













